Breaking News
NasDem dan Gerindra Pasangkan Rico-Zaki di Pilwalkot Medan I Kebijakan Parkir Berlangganan, Bobby Gaji 1.700 Jukir di Medan Rp2,5 Juta per Bulan I Hari Pertama Parkir Berlangganan Kota Medan Terjual 1.093 Stiker I Harga Tiket KA Bandara Kualanamu Turun Jadi Rp40 Ribu Mulai 1 Juli I Warga di Medan Disekap dan Dimintai Uang Rp100 Juta

Ashurbanipal, Perpustakaan Tertua Abad ke-7 SM

PORTALSWARA.COM — Ashurbanipal, perpustakaan tertua di dunia, setidaknya merupakan kumpulan dari 30.000 dokumen berhuruf paku, yang ditulis dalam bahasa Akkadia dan Sumeria.

Ashurbanipal didirikan sekitar abad ke-7 SM, disebut menjadi perpustakaan tertua di dunia.Perpustakaan ini ditemukan di reruntuhan kota Niniwe Assyria, Mosul, Irak.

Sejarah Ashurbanipal
Dikutip dari History, teks-teks yang ada dalam perpustakaan itu memuat catatan sastra dan administrasi.

Ashurbanipal merupakan putra ketiga Esarhaddon dan diangkat sebagai putra mahkota Assyria yang berbasis di Niniwe.

Ashurbanipal yang menyukai buku, mengumpulkan sebagian besar koleksi perpustakaannya dengan menjarah karya-karya dari Babilonia dan wilayah lain yang ditaklukkannya.

Arkeolog kemudian menemukan reruntuhannya pada pertengahan abad ke-19 dan sebagian besar isinya sekarang disimpan di British Museum di London.

Meskipun Ashurbanipal memperoleh banyak koleksinya melalui penjarahan, ia tampaknya sangat khawatir tentang pencurian.

Sebuah prasasti di salah satu teks memperingatkan bahwa jika ada yang mencuri koleksinya, para dewa akan menjatuhkannya, serta menghapus nama dan benihnya di tanah.

Dokumen Asyur paling awal dalam koleksi perpustakaan ini berasal dari masa pemerintahan Sargon II (721-705 SM) dan Sanherib (704-681 SM) yang menjadikan Niniwe sebagai ibu kota Neo-Asiria.

Melansir kompas.com, Jumat (25/11/2022), pada zaman Ashurbanipal, perpustakaan itu terletak di lantai dua dari dua bangunan berbeda di Niniwe, yaitu Istana Barat Daya dan Istana Utara, seperti dikutip dari ThoughtCo.

Perpustakaan itu hampir pasti mencakup lebih dari 30.000 jilid, termasuk tablet runcing tanah liat yang dibakar dan papan tulis kayu berlapis lilin yang disebut diptych.

Niniwe ditaklukkan pada 612, sehingga bangunannya dihancurkan dan koleksinya dijarah.

Ketika para arkeolog tiba di Niniwe pada awal abad ke-20, mereka menemukan pecahan dan seluruh tablet serta papan tulis kayu berlapis lilin sedalam satu kaki di lantai istana.

Baca Juga :  Istidraj, Kenikmatan pada Orang Berdosa yang Diberi Allah SWT

Dua arkeolog yang menemukannya adalah Austin Henry Layard dan Henry Creswicke Rawlinson yang berkebangsaat Inggris.

Sementara arkeolog Hormuzd Rassam yang bekerja dengan Rawlinson dikreditkan dengan penemuan beberapa ribu tablet. (psc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *