Breaking News
PDIP Meminta KPU Tunda Penetapan Prabowo-Gibran Akibat Gugatan di PTUN I Edy Rahmayadi Tetap Berusaha Daftar ke Golkar dan Gerindra Meski Ditolak I MK Tolak Gugatan Sengketa Pilpres 2024 I Eks Direktur Utama RSUP Adam Malik Terduga Korupsi Rp8 Miliar Ditahan IOknum Dokter Tersangka Cabuli Istri Pasien Berdamai dengan Rp600 Juta
banner 600x300

Jerman Bangkrut Tak Mampu Biayai Krisis Energi

PORTALSWARA.COM — Jerman bangkrut tak mampu lagi membiayai krisis energi yang terjadi. Bahkan Jerman telah mengeluarkan hingga setengah triliun dollar untuk menyelamatkan kebutuhan energi negara itu, di tengah krisis bahan bakar akibat perang Rusia-Ukraina.

Sayangnya, jumlah itu diprediksi tak akan cukup. Jerman bangkrut tak mampu biaya krisis energi.

Menurut Analis dari German Economic Institute (IW), Michael Groemling, dana yang disiapkan perlu disesuaikan dengan lamanya krisis berkembang. Ia juga menyebut Berlin telah kehilangan banyak dana dalam situasi ini.

“Ekonomi nasional secara keseluruhan menghadapi kehilangan kekayaan yang sangat besar,” ujarnya dikutip Reuters, Kamis (15/12/2022).

Uang yang disisihkan Berlin mencapai hingga 440 miliar euro atau setara US$ 465 miliar. Dana itu digunakan untuk mengamankan sumber energi baru pasca keputusan negara itu untuk menjauhi bahan bakar dari Rusia.

Bila dibandingkan pada hari di mana Rusia menyerang Ukraina pada 24 Februari lalu, Berlin telah mengeluarkan 1,5 miliar euro per hari. Biila dibandingkan dengan populasi, ini juga setara dengan sekitar 5.400 euro untuk setiap warga.

Sementara itu, Jerman juga sejauh ini beralih ke pasar energi spot, atau uang tunai, yang lebih mahal untuk menggantikan beberapa pasokan Rusia yang hilang. Ini mengerek inflasi menjadi dua digit.

“Ekonomi Jerman sekarang berada dalam fase yang sangat kritis karena masa depan pasokan energi lebih tidak pasti dari sebelumnya,” kata Stefan Kooths, Wakil Presiden dan Direktur Riset Siklus Bisnis dan Pertumbuhan di Kiel Institute for the World Economy.

“Di mana posisi ekonomi Jerman? Jika kita melihat inflasi harga, demamnya tinggi.”

Melansir CNBC Indonesia, Sabtu (17/12/2022), Kementerian Ekonomi, yang bertanggung jawab atas keamanan energi, mengatakan, pihaknya terus bekerja untuk mendiversifikasi pasokan, menambahkan bahwa LNG dan terminal yang diperlukan untuk mengimpornya merupakan bagian penting dari hal ini.

Baca Juga :  Diplomat Timor Leste Diusir Junta Militer Myanmar

“Listrik yang lebih mahal akan sangat menyakitkan bagi ekonomi yang diperkirakan akan menyusut paling banyak di antara negara-negara G7 tahun depan,” menurut Dana Moneter Internasional (IMF).

Pada bulan Maret, Menteri Perekonomian Robert Habeck menetapkan target untuk mengganti energi Rusia pada pertengahan 2024. Namun, banyak ekonom dan pelaku industri listrik menganggap ini terlalu ambisius.

Marcel Fratzscher, presiden German Institute for Economic Research, dan Markus Krebber, CEO produsen listrik terbesar Jerman RWE, menyatakan langkah itu mungkin bisa terealisasi pada 2025. Itu pun kalau Berlin benar-benar menemukan sumber energi baru.

Dari sisi ketersediaan gas alam cair atau LNG, Jerman juga tidak memiliki infrastruktur yang mumpuni karena ketergantungannya yang lama pada gas Rusia, sehingga baru sekarang mulai membangun kemampuan impor LNG.

Untuk saat ini, pihaknya berencana mengandalkan enam terminal impor terapung untuk membantu diversifikasi pasokan gas, yang pertama akan tiba pada Kamis.

Dari jumlah itu, tiga akan diupayakan beroperasi musim dingin ini, dengan sisanya akan dikerahkan pada akhir tahun 2023. Ini mendorong total kapasitas menjadi setidaknya 29,5 bcm per tahun.

“Saya pikir Jerman telah melakukan apa pun yang bisa dilakukan. Di pasar LNG, Jerman harus memulai dari awal, yang tidak mudah,” kata Giovanni Sgaravatti, analis riset di wadah pemikir Bruegel. (psc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *