Breaking News
Kaesang Terseret Dalam Pusaran Kasus Korupsi PT Timah I Persidangan MK Selesai, Kecurangan Pilpres 2024 Belum Tuntas Terungkap I Kebakaran di YLBHI Jakarta, Satu Anggota Pemadam Kebakaran Meninggal Dunia I Bawaslu Segera Rekrut Pengawas Ad Hoc Pilkada 2024 I Wali Kota Bobby Berbagi Kebahagiaan Ajak Anak Yatim Belanja Baju Lebaran I MUI Ingatkan Jemaah Aolia soal Menentukan Lebaran Lewat Telepon Allah
banner 600x300

Kelelawar Sebesar Manusia Benar Memang Ada

PORTALSWARA.COM, Jakarta — Kelelawar mahkota emas atau the golden flying fox, kelelawar sebesar manusia benar memang ada. Ini adalah binatang terbang yang besar.

Ketika binatang nokturnal itu mulai terkenal beberapa tahun lalu di internet, kelelawar setinggi dua meter dan menyerupai manusia itu kerap kali dianggap sebagai bohongan

Dan ternyata kelelawar mahkota emas itu benar adanya. Habitat kelelawar itu diketahui banyak tersebar di Filipina.

Meski berbadan besar, bersayap lebar, tinggi, hitam dan seram, namun kelelawar itu bukanlah hewan karnivora atau hewan pemakan daging. Melainkan kelelawar itu adalah hewan pemakan tumbuhan atau hewan herbivora. Demikian dikutip dari History of Yesterday, Rabu (9/11/2022).

Di Filipina sendiri, kelelawar itu sering terlihat berada di dekat rumah-rumah penduduk lokal. Alasannya adalah habitat kelelawar yang semakin terancam dan penduduk lokal yang sering memburu kelelawar itu.

Bahkan menurut ahli biologi, keberadaan dan kehidupan kelelawar itu kini terancam karena perubahan iklim.

Untuk menghindari ancaman, kelelawar itu kerap berpindah tempat. Beberapa kelelawar mahkota emas yang besar dan memiliki sayap selebar 1.6 meter dapat terbang hingga sejauh 250 kilometer di tengah malam menggunakan kemampuan ekologinya.

Bahkan, melansir Merdeka.com, Jumat (18/11/2022), kemampuan ekologi kelelawar itu diyakini lebih baik dibanding kemampuan lebah.

Kelelawar emas yang sering bermigrasi baik karena perubahan iklim atau terancam habitatnya pun dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan hidup yang berubah-ubah.

Kelelawar pemakan tumbuhan itu juga harus hidup di tempat yang penuh buah. Karena itu, pohon-pohon penghasil buah-buahan harus tetap dijaga keberadaannya agar kelelawar itu tidak mengganggu penduduk lokal. (psc/sugi)

Baca Juga :  Ketua FSU Sumut Ir Suseno Arto WP: Arti Ikhlas Berbagi di Hari Raya Idul Fitri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *