Breaking News
Kaesang Terseret Dalam Pusaran Kasus Korupsi PT Timah I Persidangan MK Selesai, Kecurangan Pilpres 2024 Belum Tuntas Terungkap I Kebakaran di YLBHI Jakarta, Satu Anggota Pemadam Kebakaran Meninggal Dunia I Bawaslu Segera Rekrut Pengawas Ad Hoc Pilkada 2024 I Wali Kota Bobby Berbagi Kebahagiaan Ajak Anak Yatim Belanja Baju Lebaran I MUI Ingatkan Jemaah Aolia soal Menentukan Lebaran Lewat Telepon Allah
banner 600x300

Pemko Medan Ajak Tenaga Medis Pahami Kelola Limbah B3

PORTALSWARA.COM — Focus Group Discussion (FGD) Tata Kelola Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) pada Pelayanan Kesehatan yang digelar Pemko Medan mengajak para tenaga medis untuk memahami pengelolaan limbah B3.

Walikota Medan Bobby Nasution melalui Plt Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Mansursyah, mengatakan, pengelolaan limbah B3 merupakan tantangan bagi fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurutnya, zat, energi atau komponen yang terkandung dalam limbah B3 memiliki sifat berpotensi mencemarkan, merusak lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia.

“Ini merupakan salah satu tantangan, di samping belum adanya fasilitas penyimpanan B3 memenuhi persyaratan di UPT Puskesmas,” papar Mansursyah, saat membuka kegiatan FGD, Kamis (1/12/2022), di RSUD Dr Pirngadi Medan.

Tampak hadir Direktur RSUD Dr Pirngadi Medan Syamsul Arifin, Kadis Kesehatan Medan diwakili Kabid Kesehatan Masyarakat dr Helena Rugun Nainggolan MKT, Kabag SDA Setdako Mulia Rahmat Nasution dan segenap perwakilan UPT Puskesmas Medan.

Lebih lanjut, Mansursyah mengatakan, banyak masyarakat berobat ke fasilitas layanan kesehatan di Medan menghasilkan limbah B3, berpotensi menjadi timbulan limbah es setiap harinya.

“Serta lamanya waktu pengangkutan yang telah terkumpul di tempat penyimpanan sementara,” ungkapnya.

Karenanya, Mansur berharap, melalui FGD ini para tenaga medis dan sanitasi mengetahui pengelolaan limbah B3 pada fasilitas layanan kesehatan. Sekaligus memahami cara mencegah serta menanggulangi pencemaran kerusakan lingkungan hidup. Dan gangguan kesehatan masyarakat dan tindak pidana lingkungan hidup akibat limbah B3.

Sebelumnya, Kabag SDA Mulia Rahmat Nasution, kegiatan ini bertujuan agar peserta mengetahui pengelolaan limbah B3 pada sarana fasilitas layanan kesehatan.

Narasumber dalam FGD ini, di antaranya, Development Director PT SDLI Umar S Avicenna, Lektor Kepala Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik USU Dr Ir Fatimah MT dan Kabid Pengendalian Pencemaran dam Pencemaran Lingkungan Hidup Dinas Kesehatan Medan, Ruth Oldrina Tobing ST MSi.

Baca Juga :  Pemko Medan Dukung Penuh Expo Bazaar UMKM di Rumah BUMN Medan

Dalam kesempatan itu, mewakili Kadis Kesehatan dr Taufik Ririansyah MKM,
Kabid Kesmas Dr Helena Rugun Nainggolan MKT mengatakan, pelayanan kesehatan optimal, baik pada lingkungan rumah sakit maupun layanan kesehatan primer di Puskemas, merupakan fokus bersama demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Medan.

“Namun tidak kita pungkiri bahwa produk sampingan dari layanan kesehatan menghasilkan limbah medis padat maupun cair, membutuhkan penanganan khusus, agar tidak memberikan dampak negatif bagi masyarakat maupun menimbulkan potensi infeksi nosokomial di layanan kesehatan,” sebutnya.

Dia menambahkan, dalam rangka pengamanan limbah padat dan cair, Dinas Kesehatan Medan telah melakukan beberapa upaya. Di antaranya, pemilahan dan pengamanan sampah medis di layanan sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan berlaku, bekerja sama dengan pihak pengumpul dan pemusnah limbah B3 yang berizin serta telah menghentikan penggunaan alat kesehatan yang menggunakan bahan
bermerkuri.

“Peningkatan jumlah volume limbah B3 medis di layanan kesehatan kami saat ini menunjukan angka yang cukup signifikan, pada pandemic Covid-19 dan masa recovery pasca pandemi, yang berasal dari kegiatan vaksinasi, penerapan prokes serta kegiatan tracing swab test dan lain-lain,” lanjutnya.

Peningkatan jumlah volume limbah ini, lanjutnya, memberikan dampak terhadap ketersediaan lokasi untuk pengamanan limbah medis. Terutama di Puskesmas, mengingat kondisi gedung dan lahan yang cukup terbatas.

“Demikian juga terkait peningkatan jumlah anggaran yang harus dilakukan terkait jasa pengangukatan dan pemusnahan limbah medis tersebut,” terangnya. (psc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *