PORTALSWARA.COM — Thomas Trikasih Lembong, mantan Menteri Perdagangan dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), mengungkapkan kesalahan besar yang diakui oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam perekonomian.
Menurut Lembong, pada periode kedua pemerintahan, fokus pembangunan infrastruktur seharusnya bergeser ke sumber daya manusia, namun malah tetap terpaku pada pembangunan fisik.
“Rencana awal sebenarnya fokus ke infrastruktur, periode kedua kita geser ke yang namanya software atau perangkat lunak, yaitu SDM, kesehatan, pendidikan, dan kelembagaan,” ungkap Lembong, Senin (22/01/2024).
Namun, ia menilai bahwa kesalahan besar ini dapat diperbaiki oleh pasangan Anies-Muhaimin dengan pendekatan ‘slepetnomics’, mengalihkan fokus ke pembangunan perangkat lunak, terutama sumber daya manusia.
Lembong juga mengkritik kebijakan pemerintahan terkait hilirisasi sumber daya alam, khususnya industri manufaktur padat modal berbasis komoditas. Ia menyoroti penurunan harga nikel hingga 50%, menyatakan bahwa mengandalkan ekspor dan komoditas tidak lagi bisa diandalkan. Kritiknya juga mencakup fokus pada industri padat modal yang menggunakan teknologi robotik, berpotensi menekan perekonomian masyarakat karena minim tenaga kerja.
Pasangan Anies-Muhaimin diharapkan dapat membawa perubahan dengan menguatkan industri manufaktur padat karya, menciptakan pekerjaan formal dan mengurangi dominasi sektor informal.
Lembong menekankan bahwa kekuatan Indonesia terletak pada sumber daya manusia, bukan hanya pada sumber daya alam.
“Saya kasih contoh satu merek busana yang cukup terkemuka asal AS yang pekerjakan 700 ribu pekerja di Indonesia melalui 11 mitra manufaktur, mereka komplain ke saya. Pak Tom, pemerintah tidak punya perhatian bagi kami sama sekali di industri tekstil, sepatu, karena dianggap kuno, sunset industry, mereka hanya ngomong baterai mobil listrik,” ungkap Lembong.
Melansir CNBC Indonesia, Rabu (24/01/2024), dengan demikian, Lembong menyatakan harapannya bahwa Anies-Muhaimin dapat membawa perubahan positif dalam pembangunan ekonomi Indonesia, dengan fokus pada sumber daya manusia dan industri manufaktur padat karya. (psc)






