PORTALSWARA.COM — Produsen truk di Indonesia semakin meninggalkan desain truk bermoncong yang khas, beralih ke model yang lebih rata atau pesek. Meskipun truk bermoncong dahulu menjadi standar, kini desain baru yang menempatkan mesin di bagian bawah pengemudi menjadi lebih populer.
Menurut Santiko Wardoyo dari PT Hino Motor Sales Indonesia, tren global menunjukkan pergeseran dari sebelumnya ke desain tanpa moncong. Hal ini disebabkan oleh pertimbangan kebutuhan komersial yang berubah seiring waktu.
“Mayoritas truk di dunia kini sudah tanpa bonet, kecuali di Amerika Serikat. Namun, di Asia, Eropa dan Australia, semakin jarang ditemui,” jelas Santiko.
Dari segi bisnis, truk tanpa moncong dianggap lebih menguntungkan karena memungkinkan penambahan dimensi ke belakang untuk memperluas ruang kargo. Hal ini disampaikan oleh Seno Wirdiyawantoro, Product Division Head Hino Indonesia.
“Moncong depan memakan panjang bodi, sehingga membatasi kapasitas kargo. Dengan memindahkan mesin ke bawah kursi, konsumen dapat menambah muatan di bagian belakang truk,” ungkap Seno.
Lebih lanjut, Seno menekankan bahwa truk haruslah dirancang untuk mengangkut barang-barang berat, sehingga ruang kargo harus dioptimalkan sebesar mungkin sesuai permintaan pasar.
“Dalam konteks pasar di Indonesia, truk tanpa moncong lebih diminati karena fleksibilitasnya dalam mengangkut muatan yang lebih besar,” tambahnya.
Melansir detiknews, Senin (18/03/2024), dengan perubahan ini, tampaknya akan semakin jarang terlihat di jalan-jalan Indonesia, mengikuti tren global yang menitikberatkan pada efisiensi dan kepraktisan dalam transportasi komersial. (psc)












