PORTALSWARA.COM — Seorang ahli beber bukti manusia Flores masih berkeliaran. Temuan para arkeolog menguatkan ungkapan tersebut.
Tahun 2003 silam, para arkeolog yang mencari bukti migrasi manusia modern dari Asia ke Australia, menemukan kerangka kecil cukup lengkap dari spesies manusia yang sudah lama punah di pulau Flores, Indonesia. Dan ahli beber bukti manusia Flores tersebut.
Kerangka kecil tersebut kemudian disebut sebagai Homo floresiensis, atau yang kemudian disebut sebagai hobbit merujuk kepada makhluk kreasi J.R.R. Tolkien dalam kisah fiksi The Lord of the Rings dan adaptasi filmnya yang populer.
Spesies ini awalnya dianggap berumur 12.000 tahun. Namun setelah analisis lebih lanjut, ternyata umur kerangka tersebut sekitar 50.000 tahun.
Tapi seorang pensiunan profesor antropologi di University of Alberta mengatakan bahwa bukti kelangsungan hidup spesies itu telah terabaikan, dan manusia flores mungkin masih hidup sampai sekarang.
Dalam sebuah opini untuk The Scientist yang mempromosikan bukunya berjudul Between Ape and Human, Gregory Forth berpendapat bahwa ahli paleontologi dan ilmuwan lain telah mengabaikan pengetahuan pribumi dan kisah tentang “manusia kera” yang hidup di hutan Flores.
“Tujuan saya dalam menulis buku ini adalah untuk menemukan penjelasan terbaik – yaitu, yang paling rasional dan paling didukung secara empiris – tentang kisah dari suku Lio” tulis Forth dalam tulisan, dikutip dari Ifl Science, Senin (9/01/2023).
“Ini termasuk laporan penampakan oleh lebih dari 30 saksi mata, yang semuanya saya ajak bicara secara langsung. Dan saya menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk menjelaskan apa yang mereka katakan kepada saya adalah bahwa hominin non-sapiens telah bertahan di Flores hingga saat ini atau baru-baru ini.” imbuhnya.
Melansir CNBC Indonesia, Kamis (12/01/2023), dalam sebuah opini untuk The Scientist yang mempromosikan bukunya berjudul Between Ape and Human, Gregory Forth berpendapat bahwa ahli paleontologi dan ilmuwan lain telah mengabaikan pengetahuan pribumi dan kisah tentang “manusia kera” yang hidup di hutan Flores.
“Tujuan saya dalam menulis buku ini adalah untuk menemukan penjelasan terbaik – yaitu, yang paling rasional dan paling didukung secara empiris – tentang kisah dari suku Lio” tulis Forth dalam tulisan, dikutip dari Ifl Science, Senin (9/01/2023).
“Ini termasuk laporan penampakan oleh lebih dari 30 saksi mata, yang semuanya saya ajak bicara secara langsung. Dan saya menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk menjelaskan apa yang mereka katakan kepada saya adalah bahwa hominin non-sapiens telah bertahan di Flores hingga saat ini atau baru-baru ini.” imbuhnya. (psc)







