PORTALSWARA.COM — Wakil Bupati Tapanuli Selatan Rasyid Assaf Dongoran MSi memberikan penyuluhan teknis kepada petani kopi di Desa Batusatail, Kecamatan Sipirok.
Dalam kesempatan tersebut dirinya mengajak untuk selalu bersemangat menjalankan profesi petani kopi. Dan mulailah menerapkan jam target kerja harian.
Dalam 24 jam sehari semalam kita sebagai petani hidup di Batusatail ini. Dimana 8-10 jam istirahat dan tidur. Selanjutnya ke warung kopi 3 x sehari total sekitar 3 jam , mengurus rumah dan keluarga dll sekitar 5 jam , ibadah dan berdoa pagi siang sore malam sekitar 2 jam. Artinya sisa ada sekitar 4-5 jam, maka fokuslah.
Rasyid juga meminta agar dari 30.000 bibit kopi Arabika dan kopi Robusta yang sudah ditanam di Desa Batusatail untuk dirawat sepenuh hati. Dan jika kekurangan bibit dan pupuk untuk segera berkoordinasi dengan tim lembaga non pemerintah SRI.
Pola Agroforestri kopi yang diterapkan dimaksudkan senada menanami tanaman durian, jengkol di dekitar lahan kopi dan bebrapa tanaman petai di dalam lahan kopi. Dengan membayangkan lahan kopi tidak terlalu terbuka terang dan tidak terlalu tertutup gelap cahaya matahari di kemudian hari. Pola seperti ini merupakan Kopo ramah lingkungan
Lembaga Sumatra Rainforest institute (SRI) adalah lembaga Pertanian dan Kehutanan Non Pemerintah.
“Saya bersama kawan-kawan mendirikan dan menjalankan sebelum saya Wabup. Lembaga ini bekerja menggaji staf dan kantor serta kegiatan lapangannya tidak menggunakan dana pemerintah, untuk membantu masyarakat,” terangnya.
Rasyid Assaf Dongoran juga menjelaskan, dirinya tidak lagi memimpin SRI karena sudah menjadi wakil bupati.
“Tetapi saya tetap selalu ikut kegiatan lapangannya jika terkait penyuluhan pertanian dan kehutanan sebagai pengisi waktu tertentu ke desa-desa,” urainya.
Penyuluhan berlangsung dialogis dan penuh canda tawa antara masyarakat dan berakhir dengan foto bersama.
“Saya memang senang dari zaman dulu sebelum sebagai Wabup untuk turun ke desa- desa membawa tema seputar pertanian dan kehutanan serta lingkungan hidup. Kegiatan ini saya lakukan sejak saya tamat kuliah, setelah bekerja di NGO/LSM, saat sebagai ASN berhenti dan menjadi politisi,” paparnya, seraya menyebutkan, hal-hal turun ke desa ini memang fashionnya puluhan tahun dan membuatnya sehat jasmani dan rohani. (psc)












