PORTALSWARA.COM — Pidato AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) baru-baru ini menegaskan komitmen partainya terhadap perubahan dan perbaikan, sambil melanjutkan hal yang positif.
Menurut analisis dari Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, pidato Ketua Umum Partai Demokrat tersebut, menunjukkan kegalauan terkait posisi politik Demokrat.
Adi Prayitno menyatakan bahwa pidato AHY terlihat galau, terutama dalam menentukan posisi politik Demokrat. Di satu sisi, Demokrat bersikeras pada semangat perubahan dan menjaga jarak dengan pemerintahan Jokowi. Namun, di sisi lain, Demokrat harus berkompromi dengan realitas politik, mendukung pasangan Prabowo-Gibran yang dianggap sebagai replika politik Jokowi.
“Demokrat terlihat rumit dalam memposisikan diri secara politik karena basisnya adalah yang menuntut perubahan dan kritis terhadap pemerintahan Jokowi,” ungkap Adi. Menurutnya, AHY yang menggaungkan perubahan dan perbaikan mencerminkan kesulitan Demokrat dalam menentukan posisi politiknya.
Lebih lanjut, Adi Prayitno menilai dukungan Demokrat kepada Prabowo-Gibran dapat berdampak pada elektoral partai tersebut. Orasi AHY, menurutnya, merupakan upaya untuk memperoleh dukungan politik dari konstituennya yang menginginkan perubahan.
“Wajar jika pidato AHY menyebutkan kenaikan gaji TNI-Polri sebanyak 9 kali sebagai strategi untuk mendapatkan dukungan di Pemilu 2024,” tambah Adi.
Ia menekankan bahwa pidatonya perlu dimaknai sebagai usaha menciptakan momentum agar Demokrat tetap mendapat dukungan politik dari pemilihnya.
Melansir detikNews, Senin (15/01/2024), Adi juga mencatat bahwa Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran tampaknya tidak memberikan reaksi yang signifikan terhadap pidato AHY. Ia mengaitkannya dengan pertemuan Jokowi dengan pimpinan partai pendukung Prabowo-Gibran sebelum debat ketiga, di mana tidak ada pertemuan dengan AHY.
“Pidato AHY terlihat seperti sikap ‘mendua’ Demokrat, mencerminkan kesulitan dalam menentukan arah politik yang jelas,” jelas Adi. Satu sisi, Demokrat tetap memegang semangat perubahan, sementara sisi lainnya menunjukkan dukungan terhadap Prabowo-Gibran sebagai langkah kompromi dengan pemerintahan Jokowi. (psc)






