Breaking News
Polda Sumut Tangkap Dua Nenek Penipu Jual Beli Tanah Rp852 Juta I PWI: Draft RUU Penyiaran Larang Penayangan Jurnalisme Investigasi Hambat Tugas Jurnalistik I Salwa Ar Royyan, Jamaah Calon Haji Termuda dari Medan, Hafizah 17 Juz I Sisa Material Bangunan Stadion Teladan Telah Dilelang KPKNL Rp1,6 M I Plh Dirut Perumda Tirtanadi Bagikan 8.624 Handuk ke Jamaah Haji Embarkasi Medan

Batik Parang Dilarang Dipakai di Nikahan Kaesang-Erina, Simak Alasannya!

PORTALSWARA.COM — Batik parang dilarang dipakai di pernikahan Kaesang-Erina. Larangan tersebut dilatarbelakangi beragam alasan. Simak!

Salah satu jenis motif batik masyarakat Jawa adalah batik parang. Disebut juga batik keraton, karena batik parang hanya digunakan pada acara adat tertentu di lingkungan kerajaan.

Lantas, bagaimana perkembangan batik parang di Indonesia? Dan mengapa batik parang dilarang dipakai di pernikahan Kaesang-Erina? Simak ulasannya sebagaimana dilansir dari detikNews, Rabu (14/12/2022), berikut ini.

Tentang Batik Parang
Mengutip dari jurnal berjudul “Makna Motif Batik Parang Sebagai Ide dalam Perancangan Interior” yang ditulis oleh Sella Kristie, Tessa Eka Darmayanti, dan Sriwinarsih Maria Kirana, batik parang termasuk motif paling tua di Indonesia. Kata parang berasal dari bahasa Jawa “pereng” yang menggambarkan garis lengkung-lengkung menyerupai ombak di laut.

Batik Kerajaan
Motif pada batik parang menggambarkan kekuatan dan pertumbuhan yang digunakan oleh para raja. Oleh karena itu, batik parang disebut juga batik larangan atau batik keraton karena tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa.

Disebut batik larangan karena pada masanya, batik parang tidak boleh digunakan di luar lingkungan Keraton Mataram. Hal itu dikarenakan para kaum saudagar ingin mengkombinasikan motif parang dengan motif lain (parang seling).

Seiring dengan perkembangan zaman, kini batik parang mulai digunakan oleh masyarakat luas untuk berbagai kepentingan. Batik parang sering digunakan sebagai bahan pakaian untuk undangan ataupun acara resmi lainnya.

Filosofi Motif Batik Parang
Batik ini memiliki susunan motif yang membentuk seperti huruf S dan saling terkait satu dengan yang lainnya. Bentuk S melambangkan sebuah kesinambungan, kekuasaan, kekuatan dan semangat yang tidak pernah padam.

Berikut adalah filosofi motif batik parang.
1. Motif batik parang yang saling berkesinambungan menggambarkan:
– Jalinan hidup yang tidak pernah putus
– Selalu konsisten dalam upaya untuk memperbaiki diri
– Memperjuangkan kesejahteraan dalam hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya

Baca Juga :  Kenapa Kota Ini Melarang Warganya Meninggal, Simak Alasannya?

2. Garis diagonal dalam motif batik parang menggambarkan bahwa manusia harus memiliki cita-cita yang luhur, kokoh dalam pendirian, serta setia pada nilai kebenaran.

Jenis-jenis Motif Batik Parang
Berbagai motif pada batik parang memiliki ciri khas serta makna yang terkandung did alamnya. Motif pada batik parang juga menentukan siapa yang bisa memakainya. Batik parang terdiri dari beberapa jenis motif, yaitu:
– Parang rusak
– Parang barong
– Parang klitik
– Parang kusumo
– Parang tuding
– Parang curigo
– Parang centung
– Parang pamor.

Sejarah Perkembangan Batik Parang
Batik parang awalnya hanya satu dan dibuat oleh pendiri keraton Mataram Kartasura. Kemudian, kerajaan Mataram pecah menjadi Kasultanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Batik parang terkenal di area Jawa Tengah, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan Solo. Walaupun memiliki jenis batik yang sama, namun terdapat perbedaan pada batik di kedua daerah itu.

Batik parang Yogyakarta pada umumnya terlihat mirip dengan batik parang yang terdapat di Solo karena Yogyakarta dan Solo berasal dari satu kerajaan yang sama. Perbedaan batik parang Yogyakarta dan Solo terletak pada bentuknya, dimana batik parang Yogyakarta memiliki bentuk diagonal dari kanan atas ke kiri bawah, sedangkan bentuk diagonal batik parang Solo merupakan kebalikannya, yaitu dari kiri atas ke kanan bawah.

Warna yang digunakan pada batik parang Solo cenderung didominasi oleh coklat soga, sedangkan batik parang Yogyakarta memiliki campuran dari warna lain, seperti warna putih dan hitam untuk dasar batik. (psc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *