PORTALSWARA.COM — Bahan bakar minyak (BBM) sawit mulai diterapkan pada 1 Februari 2023. Kebijakan tersebut sudah diputuskan dan dipastikan pemerintah.
Ketentuan BBM sawit itu diatur lewat Surat Edaran Direktorat Jenderal EBTKE Nomor: 10.E/EK.05/DJE/2022/. BBM sawit sebagai bahan bakar nabati B35 diharap perlahan akan mengurangi ketergantungan dari BBM impor.
Penggunaan BBM sawit mulai diterapkan sebagai bahan bakar nabati merupakan upaya serius permerintah untuk menggunakan energi bersih berkelanjutan.
BBM sawit merupakan BBM yang dicampur dengan minyak mentah kelapa sawit atau Cruel Palm Oil (CPO). Dan BBM sawit mulai diterapkan pada 1 Februari mendatang.
Pemerintah berharap pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) berbasis sawit atau BBM sawit ini akan terus memberikan manfaat ekonomi bagi banyak sektor. Terutama bagi petani sawit atau masyarakat pengelola perkebunan kelapa sawit itu sendiri.
Adapun manfaat implementasi program biodiesel berbasis sawit yang telah diterapkan yaitu penghematan devisa dan penyerapan tenaga kerja (petani sawit).
Kemudian peningkatan nilai tambah CPO menjadi biodiesel, pengurangan emisi GRS, dan peningkatan konsumsi domestik biodiesel.
Penerapan B35 dilakukan sebagai upaya pemerintah menolong para petani sawit.
Utamanya agar harga tandan buah segar (TBS) sawit petani dapat naik kembali.
“Implementasi program B35 merupakan langkah untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia. Serta menekan impor solar,” ujar Dadan Kusdiana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, dikutip dari Instagram resmi Kementerian ESDM, Jumat 6 Januari 2023.
Sementara itu Direktur Bioenergi, Andriah Feby Misna pada Kajian Strategis yang diselenggarakan oleh Society of Renewable Energy dan Divisi Kajian Strategis HIMATEK-ITB pada Sabtu 7 Maret 2022 lalu menyampaikan beberapa fakta menarik terkait sawit:
Pertama, Indonesia memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia dengan jumlah lebih dari 700 perkebunan kelapa sawit yang dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia.
Total luas lahan sawit sekitar 14,68 juta hektar, dimana 40%-nya dimiliki oleh petani kecil.
Menurut data Kementan tahun 2017, potensi pengembangan sawit adalah 35 juta ton CPO, 146 juta ton TBS, dan 26,3 juta ton TBK.
Mayoritas produksi sawit Indonesia diekspor dan menghasilkan devisa lebih dari 20 Miliar USD per tahun.
Kedua, produksi sawit secara nasional pada tahun 2015 sebesar 31,07 juta ton, tahun 2016 sebesar 31,73 ton dan terus meningkat setiap tahunnya.
Pada tahun 2019, produksi sawit nasional mencapai 42,87 juta ton.
Peningkatan produksi sawit nasional tersebut diikuti dengan peningkatan produksi biodiesel berbasis sawit nasional.
Adapun produksi biodiesel berbasis sawit nasional pada tahun 2016, 2017, 2018 dan 2019 adalah sebesar 3,65 juta kL, 3,41 juta kL, 6,16 juta kL, dan 8,37 juta kL.
Ketiga, kelapa sawit bukanlah penyebab deforestasi.
Konvensi hutan primer untuk pemanfaatan lain telah dimulai sebelum ekspansi perkebunan kelapa sawit dimulai.
Perkebunan sawit tumbuh dan menempati lahan yang sudah terdegradasi.
Menariknya, kelapa sawit justru mengubah lahan terdegradasi menjadi area produktif.
Perkebunan kelapa sawit yang dikonversi langsung dari hutan produksi hanya sekitar 3%.
Namun untuk bahan bakar diesel, mulai tahun 2020 sudah dicampurkan bahan nabati untuk campuran pada bahan bakar solar, sehingga Indonesia bisa mengurangi impor bahan bakar fosil.
Jika melihat tabel impor dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2028, jumlahnya akan semakin meningkat.
Sektor transportasi mengonsumsi energi paling banyak, yaitu untuk konsumsi BBM.
Lebih lanjut Feby menjelaskan bahwa khusus untuk bahan bakar nabati, hampir semua tanaman yang mengandung minyak bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar nabati dengan tetap memperhatikan sisi keekonomiannya.
Itulah mengapa sawit menjadi pilihan bagi Indonesia.
“Alhamdulillah, kita tanaman sawitnya sangat melimpah karena lahannya memang cocok di Indonesia. Bisnisnya juga sudah berkembang sejak lama dan supply chain nya sangat bagus sehingga sawit lah yang menjadi pilihan,” ujar Feby.
“Kami berharap teman-teman mahasiswa memberikan kontribusi dalam pengembangan bioenergi berbasis sawit. Baik itu melalui pengembangan inovasi teknologi dan produk bioenergi berbasis sawit yang reliable, efisien dan kompetitif,” lanjut Feby.
“Kami juga mengharapkan universitas dapat menumbuhkan dan merangsang terciptannya ahli-ahli profesi di bidang berbasis sawit serta melakukan kajian terintegrasi pengembangan bioenergi berbasis sawit,” pungkas Feby.
Untuk diketahui, program BBM campur kelapa sawit telah dijalankan sejak tahun 2008, dengan kadar campuran biodiesel sebesar 2,5%.
Kemudian, program tersebut berhasil dan meningkatkan kadar biodiesel secara bertahap ditingkatkan hingga 7,5% rentang waktu 2008 sampai dengan 2010.
Lalu, pemerintah juga terus meningkatkan kadar biodiesel secara bertahap dari 10% sampai 20% yang lebih dikenal B20.
Akhirnya, dengan beleid Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015, persentase biodiesel ditingkatkan menjadi B30.
Di samping itu, dia juga memastikan bahwa kebutuhan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) untuk produksi biodiesel sejauh ini masih aman.
Pasalnya, kapasitas produksi Biodiesel dalam negeri mencapai 17,14 juta kilo liter (kl).
“Kesiapan bahan baku industri biodiesel sudah mencapai 17,14 juta KL, bahan baku untuk biodiesel cukup semoga program ini berjalan,” kata Dadan.
Selain, melihat dari kesiapan regulasi dan kesiapan bahan baku, pemerintah saat ini juga tengah mempersiapkan dari sisi spesifikasi dengan para pihak terkait.
Mengingat sejauh ini program campuran biodiesel baru sampai pada B30.
Adapun, guna mengantisipasi potensi masalah yang timbul ketika penerapan B35 dijalankan, Edi mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan uji secara statis pada B40. Kemudian nantinya akan dilanjutkan pada uji jalan atau road test kendaraan dengan bahan bakar B40.
“Kami lihat kembali dengan lembaga terkait dan melibatkan komite teknis terkait spek B35. Jadi mudah-mudahan dari aspek teknis gak masalah. At least ini bisa diterapkan akhir Juli nanti bisa berjalan kita lakukan secara bertahap sehingga menuju B35 gak langsung, ada transisi dari B30 ke B35,” katanya.
“Jadi dalam konteks itu kalau secara dinaikkan demandnya harganya naik, ini dalam rangka menolong TBS nya semakin bagus, sekarang kan turun. Ini kebijakan nasional bukan hanya Kementerian ESDM,” ujar Dadan.
Dadan menyampaikan pemerintah sendiri telah melakukan uji lab pada pengembangan campuran minyak sawit 40% (B40) pada beberapa waktu lalu.
Sehingga ia optimistis penerapan B35 akan berjalan lancar.
Melansir radarkaur.co.id, Sabtu (07/01/2023), bersamaan dengan penerapan B35, pemerintah juga tengah menyiapkan uji jalan atau road test kendaraan dengan bahan bakar B40.
“Kita sudah uji coba B40 seribu jam di lab. Sudah diuji coba di lab jadi kita punya keyakinan dari sisi itu akan berjalan dengan baik tapi itu belum uji di jalan. Tapi untuk B40 akan kita lakukan uji jalan. Sekarang B35 yang untuk diimplementasikan,” katanya. (psc)






