Rupiah Masuk 5 Besar Mata Uang Terbaik di Dunia

PORTALSWARA.COM — Rupiah masuk 5 besar mata uang terbaik di dunia. Rupiah menguat hingga lebih dari 1,2% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp14.885/US$ pada Selasa kemarin. Level tersebut merupakan yang terkuat sejak 15 September 2022.

Dengan penguatan tersebut, sepanjang tahun ini tercatat sekitar 4,5% dan rupiah masuk 5 besar mata uang terbaik dunia. Rupiah hanya kalah dari rubel Rusia, peso Kolumbia, dan baht Thailand.

Penguatan tajam rupiah di awal tahun ini tentunya akan berisiko memicu koreksi pada perdagangan Rabu (25/01/2023).

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susianto menuturkan rupiah menguat akibat sentimen yang tidak jauh berbeda dari minggu lalu.

“Sentimen datang dari global, pasar saham di AS mengalami penguatan yang berlanjut ke pasar saham Asia, sehingga mendorong sentimen risk on, indeks dolar AS (DXY) mengalami pelemahan,” kata Edi.

Secara teknikal, sukses menembus ke bawah Rp15.090/US$, yang akan menjadi kunci pergerakan.

Level tersebut merupakan Fibonacci Retracement 50%, yang ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

Penguatan rupiah sebelumnya terakselerasi setelah menembus Rp 15.450/US$, yang merupakan Fib. Retracement 38,2%.

Rupiah yang disimbolkan USD/IDR sukses kembali ke bawah rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50), MA 100 dan 200 yang tentunya memberikan peluang penguatan lebih lanjut.

Namun, beberapa indikator juga menunjukkan risiko koreksi rupiah.

Indikator Stochastic pada grafik harian mulai bergerak turun masuk wilayah jenuh jual (oversold).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Baca Juga :  RI Berencana Impor Beras Kamboja 250 Ribu Ton

Stochastic yang mencapai jenuh jual tentunya memperbesar risiko koreksi.

Selain itu, penguatan tajam pada perdagangan Kamis (12/01/2023) hingga Senin kemarin membuat rupiah berkali-kali membentuk gap, atau posisi pembukaan perdagangan yang jauh lebih rendah dari penutupan hari sebelumnya.

Secara teknikal, pasar biasanya akan menutup gap tersebut, yang artinya risiko koreksi bertambah.

Rupiah saat ini berada di dekat area support Rp14.870/US$ – Rp14.860/US$, selama tertahan di atasnya ada risiko rupiah terkoreksi ke Rp14.920/US$, sebelum menuju Rp14.970/US$.

Sementara, melansir CNBC Indonesia, Rabu (01/02/2023), jika mampu menembus support secara konsisten, rupiah berpeluang menguat lebih jauh. Target pekan ini di kisaran Rp14.730/US$ yang merupakan Fib. Retracement 61,8%. (psc)