PORTALSWARA.COM — Artis lawas Indonesia ini ternyata seorang agen intelijen. Dan itu tak banyak yang tahu. Dia adalah Sofia Waldy atau yang lebih dikenal dengan nama Sofia WD.
Sofia diangkat menjadi agen intelijen. Wanita cantik itu mengemban sejumlah tugas pengamatan demi keamanan NKRI. Meski demikian, publik awalnya hanya mengetahui kalau artis lawas Indonesia ini merupakan seorang yang sangat berbakat.
Melansir iNews.id, Jumat (17/02/2023), berikut profil dan kisah hidup Sofia WD.
Sofia WD adalah aktris Indonesia kelahiran Bandung, Jawa Barat, 12 Oktober 1924. Ayahnya bernama Apandi, sedangkan ibunya adalah Sumirah.
Terlahir dari keluarga pedagang, ia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Saat berusia 14 tahun, Sofia menikah dengan Eddy Endang yang merupakan seorang kapten dari kesatuan Siliwangi.
Kemudian, Sofia dan Eddy Endang bergabung menjadi anggota Field Preparation (FP) yang didirikan Kolonel TNI Zulkifli Lubis pada tahun 1946. Ia dan sang suami dilantik sebagai perwira intelijen yang memiliki fungsi pengamatan untuk kepentingan NKRI.
Pasangan suami istri tersebut menempati posisi di bagian propaganda bidang seni. Sofia WD sendiri pernah mengemban pangkat sebagai sersan mayor dan ikut bergerilya di daerah Limbangan di kaki Gunung Haruman, Jawa Barat.
Namun sebelum itu, ia adalah seorang aktris. Dilansir dari situs Indonesian Film Center, Rabu (15/02/2023), Sofia WD mengawali kariernya di dunia hiburan dengan bergabung di dalam grup sandiwara Irama Massa.
Awalnya, ia hanya bertugas menjadi pembawa pesan perusahaan kepada penonton. Namun karena memiliki bakat akting, ia akhirnya dipercaya menjajaki bidang seni peran.
Sofia WD lalu membintangi film perdananya yang berjudul Air Mata Mengalir di Tjitaroem (1948). Setelah itu, ia banyak didapuk sebagai pemeran dalam ratusan film.
Saat menjadi aktris papan atas, Sofia WD sebenarnya telah ditinggalkan oleh sang suami untuk selama-lamanya. Eddy Endang diketahui gugur dalam menjalankan tugas.
Walaupun sempat berduka, Sofia tak mau menyerah untuk terus melanjutkan hidupnya. Ia tetap berkarier menjadi aktris dan mulai menjajaki profesi baru sebagai sutradara dan kepala produksi film.
Film pertama yang ia sutradarai berjudul Badai Selatan (1960). Tak hanya itu, ia juga berhasil mendirikan Libra Film dengan produksi film pertamanya berjudul Si Bego dari Muara Condet.
Bakatnya yang mumpuni dan parasnya yang menawan membuat pelawak S Waldy mempersunting janda cantik tersebut. Namun pernikahan itu tak bertahan lama karena keduanya memutuskan untuk bercerai.
Sofia akhirnya menemukan tambatan hatinya yang baru, Wagino Dachrin Mochtar. Mereka kemudian melangkah ke jenjang pernikahan dan langgeng sampai akhir hayat.
Pada 22 Juli 1968, Sofia WD menghembuskan nafas terakhirnya karena serangan jantung. Sebagai veteran, ia dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Sayangnya, Sofia belum merealisasikan mimpinya sebelum meninggal dunia. Mimpinya tersebut adalah membuat film yang mengisahkan tentang perjuangannya sebagai seorang prajurit di masa kemerdekaan. (psc)






