Breaking News
Kaesang Terseret Dalam Pusaran Kasus Korupsi PT Timah I Persidangan MK Selesai, Kecurangan Pilpres 2024 Belum Tuntas Terungkap I Kebakaran di YLBHI Jakarta, Satu Anggota Pemadam Kebakaran Meninggal Dunia I Bawaslu Segera Rekrut Pengawas Ad Hoc Pilkada 2024 I Wali Kota Bobby Berbagi Kebahagiaan Ajak Anak Yatim Belanja Baju Lebaran I MUI Ingatkan Jemaah Aolia soal Menentukan Lebaran Lewat Telepon Allah
banner 600x300

Harta Karun Ditemukan Seorang Pria Klaten saat Tak Sengaja Menggali Tanah

PORTALSWARA.COM, Jakarta – Temuan harta karun di Indonesia yang digali tak sengaja di dalam tanah dalam beberapa kasus ternyata punya kesamaan. Benda berharga seperti emas dan lainnya, kerap menggunakan guci sebagai medianya.

Guci memang jadi benda yang umum di masa lampau sebagai wadah barang. Dari kasus-kasus penemuan harta karun, seperti di Bogor dan Klaten misalnya, guci menjadi tempat penyimpanan emas meski periode peninggalannya sudah terpaut jauh.

Harga karun umumnya ditemukan tak sengaja oleh warga yang beraktivitas. Harta karun ini ada yang merupakan peninggalan masa kerajaan hingga masa revolusi kemerdekaan.

Misalnya kisah ini sempat ramai beberapa tahun lalu, enam penggali tanah uruk di Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, Klaten Jawa Tengah menemukan puluhan kilogram perhiasan emas kuno pada 1990 silam. Para penemu saat langsung memutuskan untuk melaporkan dan menyerahkan temuan empat guci berisi emas dan perak itu di balai desa.

“Setelah ditemukan kita laporkan ke balai desa. Kita ya takut nanti diusut pemerintah,” ungkap salah seorang penemu, Surip (70), baru-baru ini.

Surip mengatakan saat guci ditemukan, dirinya sedang mengirim tanah dengan truk. “Ada banyak bentuk perhiasan mulai mangkok, tas, bokor, uang dan lainnya. Setelah itu ya tidak pernah lihat lagi sebab dibawa petugas cagar budaya,” kata Surip.

Serupa tapi tak sama di Cigombong, perbatasan Sukabumi-Bogor, Jawa Barat pernah ditemukan harta karun secara harfiah berupa kiloan emas yang juga tersimpan dalam guci bawah tanah.

Emas dalam guci itu diduga peninggalan Jepang karena sebelum 1946, tentara Jepang sempat berada di kawasan Cigombong. Penemuan ini didapati oleh prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengamankan tempat itu dengan bantuan penduduk.

Baca Juga :  Cucu Paku Buwono XIII Keraton Solo Ditodong Pistol, Ada Apa Ya?

Kejadian pada 1946, saat itu tentara dan penduduk menggali-gali lahan di sekitar bekas lokasi tentara Jepang, berharap mendapatkan senjata untuk melawan tentara Belanda,

“..Sersan Mayor Sidik bersama beberapa anggota polisi tentara dan rakyat menemukan sebuah guci besar. Setelah guci itu dibuka, mereka menemukan kaus kaki yang berisikan barang keras. Kaos kaki itu mereka buka satu persatu. Mereka kaget melihat isinya emas permata dan berlian yang sudah dicongkel-congkel gemerlapan,” aku haji Priyatna Abdurrasyid: Dari Cilampeni ke New York (2001:102).

Nilai emas itu, menurut majalah Ekspres (29/09/1972), hampir mencapai Rp 6 miliar. Detailnya, harta karun itu berupa 7 kg emas dan 4 kg berlian, yang berasal dari Perkebunan Pondok Gede, Bogor.

Berdasarkan laporan dari tim yang menyerahkan harta karun itu ke Yogyakarta, harta karun itu lalu diserahkan kepada Bank Negara Indonesia (BNI-46) di Yogyakarta. Direktur BNI-46 kala itu adalah Raden Mas Margono Djojohadikusumo, kakek dari Menteri Pertahanan RI saat ini.

Namun, ada juga temuan guci tak melulu berisi harta karun atau logam berharga. Misalnya, dua guci kuno sempat ditemukan Harun Talla (55), pembuat batu bata asal Dusun Karanganyar, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Dua guci itu dia temukan saat menggali tanah untuk membuat batu bata.

Kisahnya berawal satu hari pada 1999, sekitar pukul 18.15 WIB, Harun sebenarnya sudah selesai bekerja. “Tapi seperti ada yang membisiki saya agar menggali tanah lagi untuk membuat adukan,” kata Harun Juni 2022 lalu dari detikcom.

Harun pun, sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia, Minggu (30/10/2022), mengayunkan cangkulnya pelan. Baru tiga ayunan, di kedalaman sekitar 1,2 meter, ujung cangkulnya mengenai batu. “Di bawah batu itu ada dua guci ini. (Guci) yang besar di bawah, yang kecil menutup yang besar. (Guci) Tidak ada isinya. Di sekitarnya tidak ada benda lain,” ujar Harun. (psc/bs)

Editor: Sugi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *