Breaking News
Kaesang Terseret Dalam Pusaran Kasus Korupsi PT Timah I Persidangan MK Selesai, Kecurangan Pilpres 2024 Belum Tuntas Terungkap I Kebakaran di YLBHI Jakarta, Satu Anggota Pemadam Kebakaran Meninggal Dunia I Bawaslu Segera Rekrut Pengawas Ad Hoc Pilkada 2024 I Wali Kota Bobby Berbagi Kebahagiaan Ajak Anak Yatim Belanja Baju Lebaran I MUI Ingatkan Jemaah Aolia soal Menentukan Lebaran Lewat Telepon Allah
banner 600x300

AS Dikecam 185 Negara PBB, Kenapa Ya?

PORTALSWARA.COM, Jakarta – Amerika Serikat (AS) dikecam 185 negara di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendukung resolusi tidak mengikat untuk mengutuk embargo Paman Sam.

Hal ini merupakan yang ke-30 kali PBB memilih untuk menentang kebijakan AS. Pemerintah Presiden Joe Biden sendiri bersama Israel menolak, sementara Brasil dan Ukraina abstain.

Dan terkait Kuba, Havana telah lama meminta embargo AS ke negerinya dicabut, di tengah krisis ekonomi di pulau Karibia itu.

Baca Juga :  Kasat Intel Polres Tanjungbalai Diperiksa Propam, Kenapa Ya?

“Sejak 2019, AS telah meningkatkan pengepungan di seluruh negara kita, membawanya ke dimensi yang lebih kejam,” ucap Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez dikutip AFP, Jumat (4/11/2022).

“Tujuannya sengaja menimbulkan kerusakan terbesar yang mungkin terjadi pada keluarga Kuba,” tambahnya.

Diplomat itu juga mengecam Presiden AS Joe Biden, karena melanjutkan kebijakan ‘tekanan maksimum’ dari pendahulunya Donald Trump. Padahal perbaikan hubungan sempat digagas Barack Obama.

“Pengaruh AS penyebab utama kekurangan, kelangkaan dan kesulitan yang diderita oleh keluarga Kuba akan gagal untuk mengatakan yang sebenarnya,” jelasnya, sembari menambahkan, negaranya merugi US$ 6,35 miliar atau setara hampir Rp100 triliun.

Hal sama juga dikatakan Duta Besar Kuba untuk PBB Yuri Gala. Ia menambahkan, isolasi telah membuat logika AS terkait kemerdekaan Hak Asasi Manusia (HAM) yang selama ini didengungkan tidak masuk akal.

“Jika pemerintah AS benar-benar peduli pada kesejahteraan, hak asasi manusia, dan penentuan nasib sendiri rakyat Kuba, itu bisa mencabut embargo,” katanya.

Mengutip Al-Jazeera, AS memberlakukan embargo pada tahun 1960. Hal itu menyusul revolusi Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro dan nasionalisasi properti milik warga negara dan perusahaan AS.

Baca Juga :  Uang Rupiah Diganjar Penghargaan Internasional

Dua tahun kemudian, tindakan yang melarang perdagangan antara kedua negara, di antara pembatasan lainnya, diperkuat. Selama itu hubungan AS dan Kuba renggang.

Ketika Obama menjadi presiden, ia mengambil langkah-langkah besar untuk meredakan ketegangan dengan Kuba selama masa jabatannya. Termasuk secara resmi memulihkan hubungan AS-Kuba dan melakukan kunjungan “bersejarah” ke Havana pada 2016.

Namun, dilandir dari CNBC Indonesia, Sabtu (5/11/2022), di era sesudahnya, saat Trump memimpin AS, ia membatalkan upaya semacam itu. Dirinya mengambil pendekatan yang lebih keras, meningkatkan sanksi dan mundur ke langkah normalisasi. (psc/bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *